Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Mengenal Lebih Dekat Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Info Sekolah Kedinasan

Buat kamu yang tertarik dengan dunia agraria, pertanahan, dan tata ruang, nama Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional pasti sudah tidak asing lagi. Kampus kedinasan yang satu ini memang punya peran besar dalam mencetak sumber daya manusia unggul di bidang pertanahan Indonesia. Berada di bawah naungan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), STPN menjadi salah satu perguruan tinggi kedinasan yang punya sejarah panjang sekaligus tanggung jawab strategis.

Di artikel ini, kita bakal membahas tuntas mulai dari sejarah berdirinya, visi misi, program studi, fasilitas, hingga kehidupan taruna di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional. Semua dibahas dengan gaya santai supaya enak dibaca, tapi tetap informatif.

Sekilas Tentang Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional merupakan perguruan tinggi kedinasan yang fokus pada pengembangan keilmuan agraria, tata ruang, dan pertanahan. Tujuan utamanya jelas, yaitu mencetak SDM yang tidak hanya pintar secara akademik, tapi juga punya karakter kuat sebagai aparatur negara di bidang pertanahan.

Sebagai institusi kedinasan, STPN punya peran ganda. Di satu sisi, kampus ini bertanggung jawab pada peningkatan kapasitas pegawai ATR/BPN. Di sisi lain, STPN juga menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi seperti kampus pada umumnya, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Sejarah Panjang yang Dimulai Sejak 1963

Kalau ditarik ke belakang, sejarah Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional dimulai dari berdirinya Akademi Agraria pada tahun 1963. Lahirnya akademi ini tidak lepas dari terbitnya Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) tahun 1960 yang membawa perubahan besar dalam sistem hukum pertanahan di Indonesia.

UUPA 1960 mengemban lima misi besar, yaitu:

  1. Pembaruan hukum agraria nasional
  2. Pelaksanaan landreform
  3. Penataan penggunaan tanah
  4. Penghapusan hak asing di bidang agraria
  5. Menghilangkan sistem feodal dalam penguasaan tanah

Untuk menjalankan misi besar tersebut, Indonesia butuh tenaga ahli yang paham hukum agraria sekaligus teknis pertanahan. Sayangnya, saat itu SDM di bidang ini masih sangat terbatas. Inilah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya Akademi Agraria.

Awalnya, Akademi Agraria berdiri di Yogyakarta dengan Jurusan Agraria. Setahun kemudian, dibuka Jurusan Pendaftaran Tanah di Semarang. Sejak awal, pendidikan di akademi ini tidak memisahkan antara teori dan praktik. Mahasiswa dibekali pemahaman hukum agraria sekaligus kemampuan teknis seperti pengukuran dan pendaftaran tanah.

Perkembangan Institusi Hingga Menjadi STPN

Perjalanan menuju Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional tidak instan. Tahun 1971, Akademi Agraria di Semarang digabung dengan Akademi Agraria Yogyakarta dan berpusat di Yogyakarta. Lalu pada awal 1980-an, akademi ini memiliki empat jurusan utama, mulai dari pendaftaran tanah hingga landreform.

Namun, perubahan kebijakan pendidikan membuat Akademi Agraria akhirnya bertransformasi. Pada tahun 1987, namanya berubah menjadi Akademi Pertanahan Nasional. Tidak berhenti di situ, pada tahun 1993 statusnya kembali ditingkatkan menjadi Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional.

Sejak menyandang nama tersebut, STPN mulai menyelenggarakan pendidikan Diploma IV yang setara dengan Strata 1. Dua jurusan utama yang dibuka saat itu adalah Manajemen Pertanahan dan Perpetaan. Langkah ini menjadi tonggak penting dalam penguatan pendidikan pertanahan di Indonesia.

Program Pendidikan di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Saat ini, STPN menyelenggarakan beberapa jenjang pendidikan yang dirancang sesuai kebutuhan dunia pertanahan nasional.

  1. Program Diploma I

Program ini fokus pada pengukuran dan pemetaan kadastral. Berbeda dengan Diploma IV yang mayoritas mahasiswanya berasal dari PNS ATR/BPN, Diploma I membuka jalur untuk lulusan SMA atau sederajat melalui seleksi terbuka.

  1. Program Diploma IV

Program ini setara dengan Strata 1 dan menjadi program unggulan STPN. Mahasiswa Diploma IV dipersiapkan menjadi tenaga profesional yang siap terjun langsung ke dunia kerja pertanahan, baik di pusat maupun daerah.

Kurikulumnya dirancang seimbang antara teori, praktik lapangan, dan pemahaman kebijakan agraria nasional.

Visi dan Misi Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional

Sebagai kampus kedinasan, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional punya arah pengembangan yang jelas.

Visi STPN
Menjadi perguruan tinggi kedinasan yang unggul dan terkemuka dalam mendukung visi Kementerian ATR/BPN.

Misi STPN

  • Menyelenggarakan pendidikan pertanahan yang berkualitas
  • Mengembangkan penelitian di bidang agraria dan tata ruang
  • Melaksanakan pengabdian masyarakat berbasis pemberdayaan
  • Mewujudkan tata kelola akademik yang berstandar nasional

Visi dan misi ini menjadi dasar seluruh kegiatan akademik dan non-akademik di lingkungan kampus.

Akreditasi dan Mutu Pendidikan

Dari sisi mutu, Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional telah mengantongi akreditasi B dari BAN-PT. Akreditasi ini menjadi bukti bahwa penyelenggaraan pendidikan di STPN sudah memenuhi standar nasional pendidikan tinggi.

Selain itu, STPN juga memiliki Pusat Penjaminan Mutu Internal yang bertugas memastikan kualitas pendidikan tetap terjaga, mulai dari input mahasiswa, proses pembelajaran, hingga lulusan yang dihasilkan.

Fasilitas Penunjang yang Lengkap

Untuk mendukung proses belajar, STPN menyediakan fasilitas yang terbilang lengkap.

Perpustakaan

Perpustakaan STPN memiliki lebih dari 23 ribu koleksi buku, mayoritas di bidang sosial dan agraria. Sistemnya sudah terintegrasi secara online dan tergabung dalam jaringan perpustakaan DIY.

Laboratorium Pertanahan

Ada berbagai laboratorium modern seperti:

  • Laboratorium KKP dan Kantor Pertanahan Mini
  • Laboratorium Sistem Informasi Geografis (SIG)
  • Laboratorium Pengukuran, Kartografi, dan Fotogrametri

Semua laboratorium ini dirancang agar mahasiswa terbiasa dengan kondisi kerja nyata di kantor pertanahan.

Pusat Pelatihan Bahasa

STPN juga punya laboratorium bahasa yang mendukung peningkatan kemampuan bahasa asing mahasiswa dan dosen.

Laboratorium Desa: Belajar Langsung di Masyarakat

Salah satu keunikan STPN adalah adanya Laboratorium Desa. Melalui fasilitas ini, mahasiswa bisa belajar langsung di desa-desa mitra yang tersebar di wilayah DIY.

Di sini, mahasiswa tidak hanya belajar soal teknis pertanahan, tapi juga memahami dinamika sosial, konflik agraria, dan perubahan struktur penguasaan tanah di masyarakat desa.

Kehidupan Taruna dan Unit Kegiatan Mahasiswa

Sebagai kampus kedinasan, kehidupan mahasiswa di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional dikenal disiplin dan berkarakter. Ada Badan Senat Taruna yang menjadi wadah aspirasi mahasiswa, serta berbagai Unit Kegiatan Taruna seperti bela negara, olahraga, seni, pers, hingga pramuka.

Selain itu, mahasiswa juga tinggal di Asrama Taruna Bhumi. Asrama ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter, kepemimpinan, dan kebersamaan antar taruna.

STPN sebagai Kawah Candradimuka Aparatur Agraria

Lulusan Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional diharapkan menjadi wajah birokrasi agraria Indonesia. Tidak hanya paham regulasi, tapi juga mampu membaca persoalan agraria secara kritis dan solutif.

Dengan bekal akademik, praktik lapangan, dan pembinaan karakter, STPN berupaya mencetak taruna agraria yang profesional, berintegritas, dan siap mengabdi untuk negara.

Penutup

Melihat sejarah panjang, sistem pendidikan, hingga fasilitas yang dimiliki, tidak berlebihan jika Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional disebut sebagai pusat pengembangan SDM pertanahan Indonesia. Kampus ini bukan sekadar tempat kuliah, tapi juga ruang pembentukan karakter dan komitmen pengabdian.

Buat kamu yang tertarik berkontribusi langsung dalam pengelolaan agraria dan pertanahan nasional, STPN bisa jadi pilihan yang sangat menjanjikan. Selain ilmu, kamu juga akan dibekali nilai-nilai kedinasan yang kuat untuk menghadapi tantangan di masa depan.

Baca artikel lainnya

Mengenal Lebih Dekat Akademi Metrologi dan Instrumentasi